Uncategorized

Sejuta Harapan untuk Ibu Kota Negara

IMG_20190820_171805.jpgAssalammualaikum Wr Wb,

Kabar mengenai kepindahan ibu kota negara Indonesia ke Kalimantan tentu sudah tersebar luas di semua kalangan masyarakat. Tak terkecuali di kalangan remaja seumuran saya. Begitu topik kepindahan ibu kota mulai masuk ke wilayah obrolan kami, tentu terlintas banyak pertanyaan di kepala.

Benarkah kepindahan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan merupakan jalan terbaik untuk menghindari sejumlah masalah yang ada berkembang lebih parah? Apakah memindahkan ibu kota ke Kalimantan merupakan solusi yang efektif untuk mengatasi masalah yang ada?

Banyak kalangan yang menolak kepindahan ibu kota, karena dianggap tidak bisa dijadikan jalan keluar yang tepat. Kenapa? Karena dikhawatirkan malah akan merusak lingkungan dan alam yang ada di Kalimantan, yang kita ketahui merupakan salah satu paru-paru dunia. Apalagi yang kita bicarakan disini adalah kepindahan ibu kota negara, yang bukan hanya soal sekedar pindah rumah ataupun pindah lapangan kerja. Tapi memindahkan salah satu pusat berjalannya kehidupan masyarakat Indonesia. Semoga keputusan mengenai pindah atau tidaknya ibu kota negara, sudah didiskusikan dan dipertimbangkan dengan matang oleh pihak yang berwenang.

Saya sebagai pelajar tentunya memiliki harapan untuk perubahan pada ibu kota di masa yang akan mendatang. Saya berharap, kepindahan ini berarti awal dari pemerataan perhatian pemerintah pada daerah-daerah berpotensi seperti Kalimantan, tapi tidak terlalu diperhatikan pelaksanaan dan biaya pengembangannya. Serta bukan hanya Kalimantan saja sebagai calon ibu kota baru yang akan lebih diperhatikan daerahnya, tapi juga daerah-daerah terpencil lainnya.

Tapi, saya juga menginginkan kepindahan ini tidak akan merubah profil daerah Kalimantan menjadi kota metropolitan seperti Jakarta. Maksudnya adalah, biarlah Kalimantan tetap menjadi Kalimantan, dengan segala adat, budaya, dan alamnya. Dan para pendatang dari Jakarta yang ikut pindah (karena lapangan pekerjaan mereka pindah) harus bisa menghargai para penduduk lokal, karena begitulah seharusnya sikap yang ditunjukkan oleh warga bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika.

IMG-20190820-WA0028.jpgPadatnya Jakarta sebagai ibu kota sudah menjadi rahasia umum untuk kita masyarakat Indonesia. Maka sebaiknya saat sudah resmi dipindahkan, pembangunan jangan dibuat sepadat Jakarta dan lebih dikontrol lagi pelaksanaannya. Kalau bisa untuk pembangunan tempat hiburan seperti mall tidak perlu diperbanyak keberadaannya di sana nanti, mengingat sudah tersebar berbagai tempat hiburan itu di hampir tiap daerah Jakarta dan sekitarnya. Bila ingin membangun pun taman hiburan tidak harus selalu berupa mall ataupun taman rekreasi nan megah dan modern. Tapi bisa berupa tempat outbond ataupun hutan kota. Agar bisa menonjolkan profil daerah Kalimantan yang terkenal dengan alamnya yang masih melimpah.

Salah satu masalah lain yang membuat Jakarta dianggap tidak layak menjadi ibu kota lagi adalah kualitas udaranya yang semakin memburuk. Dalam salah satu artikel di cnnindonesia.com, BMKG mengungkapkan ada tiga faktor yang menyebabkan menurunnya kualitas udara Jakarta akhir-akhir ini. Yaitu polusi kendaraan, pembangunan dan musim kemarau.

Lagi-lagi soal transportasi. Memang kita tidak bisa jauh-jauh dari media berpergian kita itu yang telah ikut berperan menghasilkan gas yang mencemari udara. Mengutip pernyataan Kepala Dinas Lingkungan Hidup di sebuah wawancara di tirto.id, 75% penyebab polusi udara adalah emisi kendaraan bermotor. Lantas? Bagaimanakah solusinya agar masalah yang sama tidak terulang kembali di ibukota yang baru?

Ada yang mengatakan, minimalisir penggunan kendaraan bermotor dan beralih ke sepeda. Hmm, cara yang efektif tapi kurang realistis. Coba hitung, ada berapa orang yang mau mengalihkan diri dari menggunakan motor ke sepeda, yang dianggap “kurang aman” dikendarai di tengah padatnya persaingan kendaraan di jalan raya. Meskipun motor juga memiliki presentase kecelakaan yang besar, tapi karena lebih terbiasa menggunakan motor, tentu mereka akan enggan bila harus beralih.

Kecuali jika pemerintah dapat meningkatkan aksesibilitas penggunaan sepeda di Jakarta ataupun di ibu kota yang baru nanti, mungkin ide itu bisa terealisasi dan membantu mengurangi polusi udara yang sudah sangat parah ini. Bagaimana caranya? Bisa dilakukan dengan menyediakan jalur khusus sepeda, dan bukan hanya pemerintah saja yang berperan dalam pelaksanaan ini. Tapi juga pengendara transportasi lain juga harus bisa menghargai keberadaan fasilitas dan pengguna jalur sepeda. Sebab bukan masalah seberapa banyak orang yang menggunakan sepeda, tapi seberapa totalitaskah kita berusaha mewujudkan jalanan yang ramah sepeda?

Atau bisa juga dilakukan seperti yang ada di Belanda, yaitu memperlakukan sepeda dengan istimewa ataupun setara dengan kendaraan lain. Menyediakan lahan parkir, mengalah apabila ada sepeda yang ingin lewat, melindungi para pengguna sepeda dengan memperketat aturan penggunaan jalan. Usaha ini bisa meminimalisir kecelakaan dan juga polusi udara, karena perlahan akan timbul kesadaran untuk berubah dalam diri masing-masing.

Dengan bentuk daerah yang masih memungkinkan melaksanakan harapan-harapan di atas, semoga keputusan memindahkan ibu kota ini ke Kalimantan bisa menjadi jalan yang tepat untuk mengembangkan Indonesia agar bisa menjadi negara yang berkemajuan.

Sekian dari saya, semoga bisa bermanfaat dan menginspirasi.

Salam literasi!

Wassalammualaikum Wr Wb,

Ross Roudhotul Jannah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s