Ini Pengalamanku Mengikuti Pelatihan Mendongeng Bersama Kak Resha

 

IMG-20171106-WA0002

Assalammualaikum Wr Wb,

Halo para pembaca setia! Untuk kedua kalinya aku mendapat dispensasi dari sekolah. Lho, memangnya kenapa? Kamu melanggar peraturan sekolah ya? Duh, bukan soal itu guys! Aku baru saja mengikuti sebuah Acara Pelatihan Mendongeng Bagi Forum Anak Kota Depok Tahun 2017 pada hari Senin, 06 November 2017. Pembicaranya adalah Kak Resha Rashtrapatiji dan Bunda Elly Farida, istri dari Bapak Walikota Depok.

Aku mengikuti pelatihan itu bersama dua orang siswi dan seorang guru mewakili sekolah. Ada Tasya dan Keisha dari kelas 8, serta Bu Erni seorang Ketua Pelaksana GLS. Acara Pelatihan itu diadakan di gedung Wisma Hijau Kampus Diklat Bina Swadaya yang terletak di JL.Mekarsari Raya No.15, Cimanggis Kota Depok.

Jam 07.58 aku sampai di sana bersama rombongan. Begitu sampai, kami langsung mengisi daftar absen. Peserta murid mendapatkan tas dan sebuah pamflet “Kota Ramah Anak” atau KRA. Setelah itu para peserta yang sudah datang dipersilakan untuk coffe break dahulu sambil menunggu peserta yang lain datang. Aku, Tasya, Keisha dan Bu Erni berfoto dahulu untuk dokumentasi. Oh ya, kami (aku, Tasya, Keisha) mengambil tempat duduk di depan. Di tempat duduk kami sudah tersedia pulpen dan notes catatan bertuliskan Wisma Hijau.

Sebelum aku mengikuti Pelatihan ini, aku sama sekali belum tahu siapakah itu seorang Kak Resha Rashtrapatiji? Beruntung ada penjelasan di layar Infocus yang dipakai untuk presentasi. Kak Resha merupakan seorang Edutainer, Traveller, full time dad, dan seorang presenter di acara “Jejak Rimba” di channel MNC TV. Meskipun saya yakin pasti ia lebih dari itu. Oh ya, untuk kalian yang belum tahu apa itu Edutainer berdasarkan penjelasan darinya, Edutainer adalah orang yang menggabungkan edukasi dan intertaiment. Dan jangan salah sangka kalau Kak Resha seorang perempuan, karena melihat namanya ya. Meskipun rambutnya gondrong (enggak ada hubungannya sih hehehe:v), dia merupakan ayah dari seorang anak perempuan dan laki-laki.

 

IMG_20171106_075336

Acara ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama dalam ruangan dipimpin oleh seorang siswi SMA bernama Sabrina. Dan berdoa oleh seorang siswa SMA yang aku lupa namanya. Setelah itu Kak Resha membuka acara dengan menayangkan sebuah video mengenai sedikit kegiatan yang dilakukannya. Mulai dari naik gunung, mendongeng anak SD, sampai menjadi pembicara di acara-acara seperti ini.

Kak Resha memberitahu mengenai tujuan dari acara ini diadakan. Yaitu mengajari anak tata cara mendongeng, public speaking, dan membangun komunikasi efektif. Kak Resha juga memberi sebuah alamat website apabila kita ingin mengetahui lebih banyak mengenai materi yang dibawakannya. Kalian bisa mengeceknya di www.dongeng.net atau bisa mengunjungi akun instagramnya, @kakresha.

IMG_20171106_083351

Baru memulai acara, kami sudah disuguhi oleh game penyegar otak. Yaitu bisa mengumpulkan 10 nama peserta selain peserta yang satu sekolah dengan kita. Disertai dengan hobi dan warna favorit. Waktu yang diberikan hanya 15 menit. Ketika waktu tinggal 5 menit aku berhasil mendapat enam nama peserta beserta perintah lainnya.

Ada satu prinsip Kak Resha yang aku suka. Semacam moto untuk selalu berani berbuat, yang positif tentunya. Yaitu, “Kalian boleh salah tapi jangan bodoh” Karena setelah salah kita bisa belajar untuk menjadi benar. Kalau salah bisa diperbaiki, tapi kalau sudah bodoh akan sulit memperbaikinya lagi. Setiap Kak Resha akan meminta ada yang maju untuk membacakan hasil kerjanya, pasti ia selalu mengatakan kalimat itu.

Lalu kami disuruh berkelompok dengan peserta lain dan menuliskan nama kelompok, keistimewaan kelompok, yel-yel dan logo atau bendera kelompok. Tanpa disuruh hampir setiap kelompok menceritakan filosofi dari nama dan logo kelompok yang juga sangat unik-unik dan kreatif. Ada beberapa kelompok yang aku sangat suka karena kreatif dan keren. Yaitu kelompok Arka Swara, NABER Squad (aNAk BERkreasi), dan satu kelompok yang aku lupa namanya tapi aku ingat sekali anggotanya merupakan anak-anak SMA dari Forum Anak Kota Depok. Logonya berupa cahaya yang berbentuk seperti jarum kompas.

Kelompokku sendiri bernama Pelangi dan hasil gambarnya sedikit abstrak dan bebas tapi punya arti. Aku menggambar pelangi sebagai logonya dengan awan dan tentu hujan.  Lantas ada sedikit catatan kecilku, “Sehabis Hujan Mimpi, kami akan berkreasi dari berjuta imajinasi.” Mungkin sedikit kurang nyambung, tapi ada filosofi yang nyambung dengan logonya. Yaitu setelah merajut banyak mimpi, yang sangat banyak hingga tak bisa dihitung layaknya air hujan yang turun. Pelangi bisa diartikan sebagai imajinasi. Dan oh ya, ada temanku yang menggambar rumput di bawahnya dan itu diartikan sebagai hasil kreasi kami. Bingung? Begini rumput bisa subur karena turunnya air hujan. Bila kemarau, rumput akan kering dan layu sebab sedikit air hujannya.

Kita bisa berkreasi karena didorong semangat dari “Hujan” mimpi kita dan imajinasi yang menghasilkan ide. Tak ada hujan tak ada pelangi. Tak ada mimpi tak ada imajinasi. Karena tidak ada hujan, rumput akan kering. Karena tidak ada mimpi yang menghasilkan ide dan imajinasi, kami tak bisa berkreasi.

Setelah semua kelompok selesai presentasi, para peserta kembali mendapatkan materi. Entah karena memang terbawa suasana atau karena kursinya saja, rasanya sedang kuliah dan dosennya adalah Kak Resha. Yang membuat para peserta nyaman adalah, cara Kak Resha menerangkannya mudah dimengerti. Dan ia tak hanya diam dalam satu posisi saja tapi mengelilingi ruangan. Intinya di pelatihan itu kami dibuat santai dan tidak harus selalu serius.

Dari hasil presentasi tersebut, Kak Resha mengatakan ada beberapa catatan dalam berkomunikasi. Yaitu, Posisi dan Suara. Bila sedang berbicara dengan orang banyak, kita tidak boleh membelakangi. Jadi kita harus mengambil posisi yang pas dan efektif dalam berkomunikasi dari pihak kita maupun lawan bicaranya, itu untuk posisi.

Di presentasi kemarin juga Kak Resha mengajarkan supaya suara tidak pecah, mic ditaruh di dagu jangan di depan mulut. Ada beberapa yang tanpa mic suaranya sudah lantang, ada yang meski sudah pakai mic suaranya masih terdengar kecil. Oh ya, bila pembukaan kita mulai dengan lantang atau sedikit kejutan, itu akan berpengaruh pada perhatian yang melihat. Jadi bagaimana penonton memperhatikan itu tergantung bagaimana kita menarik perhatian mereka dari awal.

Di sana kami tidak selalu fokus terus menerus pada materi. Terkadang diselingi oleh cerita-cerita pengalaman yang dialami Kak Resha. Salah satunya saat ada empat orang dewasa “ditampar” oleh sebuah pertanyaan dari seorang anak kecil berumur empat tahun. Jadi suatu hari, mereka tengah dalam perjalanan untuk naik gunung. Seorang teman Kak Resha membawa anaknya yang masih berumur empat tahun. Di saat sedang asyik mengobrol sambil bercanda, tiba-tiba anak itu bertanya pada ayahnya apa pekerjaan ayahnya. Karena ayahnya bekerja menjadi semacam teknisi, dijawab teknisi. Dan saat itulah seorang anak kecil berumur empat tahun menampar empat orang dewasa yang sedang bersamanya. Anak itu bertanya, ayah suka naik gunung kok kerjanya teknisi. Dan apa cita-cita ayahnya sekarang. Sebagian dari mereka melakukan pekerjaan yang tidak mereka sukai dan stak di situ tidak ada niat untuk merubah sesuai jalan yang diinginkan.

Terkadang orang yang sudah dewasa tidak memiliki cita-cita. Yah semisalnya guru, mungkin niatnya yang utama bukan menjadi seorang guru. Tapi karena sudah terlanjur bergelut di bidang ini, mereka berpikir ya sudahlah selesai sampai di sini. Dalam arti tidak memiliki niat untuk bercita-cita. Kalau sudah dapat pekerjaan ini, ya sudah melakukan pekerjaan itu sampai dapat yang lebih baik sekalipun tidak disukai dan menelantarkan hal yang kita suka.

Misalnya saja aku. Aku sangat menyukai Sastra dan IPA. Tapi kemampuanku di bidang IPA kurang mantap untuk bisa ditekuni, meskipun pasti bisa bila aku bisa lebih serius lagi. Aku lebih tertarik ke Sastra karena selain suka membaca buku aku juga suka merangkai kata menjadi puisi. Ataupun merekatkannya menjadi cerita. Aku bertekad akan terus punya cita-cita hingga tua. Aku bahkan sudah menuliskan apa saja yang kuinginkan nanti. Tapi, untuk sekarang kita belum bisa membahas itu ya teman-teman! Soal cita-cita kita bahas nanti sepuas-puasnya di tulisanku yang lainnya.

Kak Resha bertanya apakah arti Pohon? Pohon itu sebenarnya apa sih? Kalau melihat dari cara jawab para peserta yang berbeda-beda, itu menunjukkan pemikiran peserta yang berbeda-beda. Ada yang menjawab hingga detail, ada yang menjawab dengan seadanya. Kalau bagi Kak Resha, Pohon itu sama dengan memohon. Mungkin karena bunyi akhiran yang mirip

Kalau menurut pemikiranku, maksudnya adalah ketika kita menanam pohon sama saja kita menanam harapan dan keinginan kita. Seperti perasaanku setiap melihat tunas yang mulai keluar dari bibit yang kutanam. Aku terus berharap tunas itu tumbuh dan terus tumbuh, itu sama saja harapanku bukan? Yah setidaknya itu menurutku, entah kalau menurut Kak Resha dan kalian bagaimana.

Setelah itu kami istirahat siang. Atau kalau menurut istilah anak sekolah, ishoma (Istirahat, Sholat, Makan). Karena dalam satu kelompok perwakilan sekolah sedang halangan semua, kami langsung turun ke bawah untuk makan. Banyak yang sudah turun duluan dan mengambil tempat duduk. Sebenarnya aku mau foto-foto dulu di luar karena kelihatannya latar tempatnya bagus-bagus. Hijau, unik, Aestetic.

Makan siang kami prasmanan atau mengambil sendiri. Ada es buah juga dan air putih yang sudah disediakan di gelas-gelas setiap meja. Ruang makan ini terasa nyaman karena pencahayaannya berasal dari jendela dan pintu-pintu tembus pandang. Dan tidak mungkin ada yang tidak mendapat tempat karena meja yang disediakan cukup banyak meskipun kami digabung dengan para staf lain. Setiap ada piring atau gelas kotor langsung dibersihkan dari meja. Intinya kami makan siang dengan nyaman.

Setelah makan, kami foto-foto di luar. Untung yang tadinya hujan sekarang sudah reda. Aku baru menyadari kalau tempat ini sangat luas. Mungkin karena saat berangkat agak buru-buru hingga tidak memperhatikan dengan baik. Setelah puas kami masuk ke gedung Wisma Hijau dan naik ke ruangan tempat pelatihan tadi. Iseng-iseng kami pergi ke toilet luar yang ada di atas. Dan aku semakin dikejutkan dengan kehijauan tempat ini. Toiletnya bersih dengan wastafel di depan. Pagar teras pun dihiasi beberapa tumbuhan. Jadi meskipun lorong ini agak sempit tapi terasa rapi dan hijau. Ah, lagi-lagi hijau. Aku pikir hanya UI (Universitas Indonesia) yang punya tempat sehijau ini di Depok.

Nah, penasaran enggak kelanjutan ceritaku ini? Pengen tahu dong apa yang kami lakukan lagi setelah istirahat makan siang? Ada seseorang lho yang datang ikut menjadi pembicara di acara pelatihan ini! Mau tahu kan siapa orangnya? Aku kasih petunjuk deh! Yang pasti beliau perempuan dan aku sempat menyebut namanya di pembukaan tadi.

Terima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah mau membaca isi blogku hingga titik terakhir. Mohon maaf bila ada kesalahan dan kekurangan dalam penulisanku. Aku akan sangat senang bila kalian mau menyampaikan kritik dan saran lewat Email ataupun langsung di kolom komentar. Tentu itu akan sangat membantuku untuk membuat tulisan selanjutnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sampai juga lagi nanti!

Wassalammu’alaikum Wr Wb

Ross Roudhotul Jannah Kuartanegara

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s